Rabu, 26 Agustus 2015

Please forgetten !!+ part 2



Please,,,, Forgotten 



Melihat wajah midori kelihatannya dia sedang memikirkan sesuatu. Dia terus memandangi kenji lekat-lekat “bagaimana kalu dia bertemu dengan sakura  ? bagaimana kalau mereka berdua saling bertemu? Aku tidak tahu perasaan kenji sekarang ini” hal yang sedang dipikirkan oleh midori yang berharap bahwa kenji tidak bertemu dengan sakura yang takut kalu Kenji
“kenapa kau berdiri disana ?aku mau lewat bisakah kau menyingkir ?” cetus kenji yang membangunkan lamunan midori hingga dia tersadar lalu menggeserkan badanya.
“jangan masuk..” pintanya dengang lembut sambil memegang tangan kenji yang mengartikan untuk tidak masuk kedalam.
“memang kenapa ? lepaskan tanganmu..!” cetus kenji yang membuat midori melapaskan tangannya.
“aku sudah masuk kedalam, buku-bukuny tidak ada yang meenarik, semuanya terbitan tahun lalu tidak ada yang bagus. Jadi, sebelum kau kecewa maka pindah ke toko buku yang lainnya saja” tawar midori dengan senyum tipis dibibirnya bermaksud untuk memberikan alasan yang bagus pada kenji.
“sejak kapan kau tertarik pada buku-buku ?” pertanyaan kenji ini membuat Midori terdiam lagi karena memang midori dari dulu tidak tertarik pada buku-buku manapun seharusnya dia tidak mengatakan alsan yang seperti itu mungkin ada alasan yang lainnya, pikirannya memang sangat dangkal tidak pernah berpikir panjang.
“m..... memangnya kau tahu apa tentang....” tidak sampai Midori melanjutkan kalimatnya kenjipun pergi meninggalkannya seperti pada saat itu.
“dia itu kebiasaan !! dimana tata kramamu ??!!!!” teriakan midori cukup keras tapi tidak diperhatikan oleh Kenji malahan dia sudah jauh dari tempat Midori sekarang, dia malah mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung diasana yang bisa mendengar teriakan Midori.
“maaf.., maafkan aku” dia hanya mampu membungkuk sambil senyum  yang menanggung rasa malu atas kelakuannya tadi.
“huuuft.. ini gara-gara kenji. Dasar Bocah Tengil”
Setelah puasnya Midori memaki Kenji selang beberapa waktu ada seseorang yang menepuk pundak Midori dari belakang. “aku sudah mendapatkan bukunya, ayo kita pergi” rupanya dia adalah Sakura. Namun Midori menoleh kearah belakang atau disekeliling Sakura hingga dia bisa menemukan kenji berada namun kenyataanya kenji tidak ada ditempat tersebut hanya orang-orang yang berdiri didepan rak buku.
“kau lihat apa ?” tanya Sakura yang memalingkan perhatiannya, Sakura pun ikut-ikutan melihat kearah yang sama seperti Midori.
“akhirnya kau temukan juga buku itu, aku hampir kaku karena berdiri terlalu lama disini. Ayo kita pulang”  dia langsung menarik tangan Sakura untuk segera pergi dari tempat itu namun Sakura tidak memiliki sedikit rasa curiga pada teman yang berada disampingnya itu. Selama diperjalanan dia terus memikirkan Kenji. Apakah disana dia telah bertemu dengan Sakura tetapi jika dilihat dari raut wajah Sakura dia tampak tiak bertemu dengan Kenji. Jika kalau Sakura bertemu dengan Kenji maka dia akan menceritakannya pada Midori tetapi ini tampak tidak terjadi apa-apa. Apakah Midori harus bertanya pada Sakura mengenai hal ini agar dia bisa langsung mengetahui kebenarannya tetapi kalau ditanya langsung pasti Sakura akan terkejut. Ini memang membuat Middori semakin bingung.
“ada yang ingin kubicarakan padamu” dia memulai membicarakannya. “Katakan saja” tetapi Midori bingung harus menceritakannya mulai dari mana. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam-dalam. “kemarin aku bertemu dengan Kenji. Dia sudah pulang dari Inggris sepeertinya ini harus kuceritakan padamu” tidak disangka-sangka Midori berani menceritakannya.  Tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan daun-daun yang kering, Mendengar berita dari Midori Sakura berhenti dari langkanya dia langsung ingat pada sesosok temannya dulu semasa kuliah yang pernah menyatakan perasaanya pada Sakura. “benarkah ?” kata-katanya terdengar sangat berat diucap. “Hm... aku melihatnya sendiri dia sangat berubah, anak itu memang penuh kejutan yach,, dulu dia terlihat seperti anak kecil tapi sekarang dia menjadi lebih tenang”  Midori tetap melangkaahkan kakinya meskipun dia tahu kalu Sakura masih terdiam dibelakangnya. “dulu kita sering pergi keluar bersamanya kita terlihat begitu akrab, namun apakah dia juga masih ingat pada kita ? menurutmu apakah dia sudah melupakan pertemanan kita Sakura-chan ?” dia menolehkan pandangannya kearah Sakura dengan senyumannya yang khas.
“aku tidak perduli kalau dia melupakan pertemanan kita dulu tetapi aku senang dia kembali kejepang. Sekarang mungkin dia telah menjadi orang yang lebih baik seperti dokter mungkin, Docktor, Profesor atau bahkan insinyur. Aku senang jika temanku telah menjadi seperi itu” Sakura mulai menyusul langkah Midori yang berada didepannya. Midori melihat kearah temannya itu dengan bangganya memiliki teman seperti Sakura, sifat sakura memang dewasa dia selalu memikirkan kebahagiaan orang disekitarnya itulah yang membuat Midori terkesan.
“kalau dipikir lagi, bukankah usia Kenji juga sama seperti kita ? tapi dia telah lulus kuliah di Inggris” tidak biasanya Sakura merasa iri pada seseorang tetapi ini adalah pertama kalinya.
“benar, dia memiliki otak yang super aku jadi curiga selama di Inggris makanaan seperti apa yang dimakan oleh Kenji mungki itu yang membuat otaknya menjadi bagus” celotehan Midori mulai dilanturkan lagi hingga sakura tertawa dan melipukan kejanggalan yang ada dihatinya.
“kalau bicara soal kuliah, besok pagi aku ada mata kuliah ini membuatku kesal. Seharusnya waktu lulus S1 aku tidak perlu melanjutkan kuliah lagi...!!!” tidak disangka cewek seperti Midori bisa melanjutkan studinya.
“kalau tidak melanjutkan lagi memangnya kau mau dikurung dirumah oleh kakekmu..??” godaan sakura yang membut Midori semakin mengkasihani pada dirinya sendiri.
“kenapa aku harus memiliki kakek seperti itu ? aku ingin terbebas dari pelajaran aku ingin mengembangkan praktekku pada binatang dan juga menandatangani kontrak di cafe” dia sudah mulai menggila dia juga menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“jadi kau masih menyanyi disana ?” tanyanya pada Midori dengan nada heran
“memang kenapa ?aku tidak mau menyia-nyiakan bakatku begitu saja. Karena harus dibebani oleh kuliah aku tidak punya waktu lagi untuk bernyanyi di Chatarish lagi ditambah lagi aku harus menerima pengobatan binatang-binatang peliharaan” Midori mulai menyesali nasibnya yang malang itu.
“memangnya kau saja yang dipaksa untuk melanjutkan kuliah lagi ? aku juga dipaksa untuk melanjutkan” Sakura juga tidak mau kalah dengan Midori. Jadi ceritanya mereka berdua sedang meratapi nasib mereka sama-sama mungkin akibat dari ‘nasib sepenanggungan’ Jiiiaah>>...
---o00o---
Sampai matahari sudah terbitpun dia masih berada didalam selimut yang menyelimuti tubuhnya mungkin dia tipe gadis pemalas.
“M I D O R I . . . . .! ! ! apa kau masih tidak mau bangun juga ??” teriang sang kakek kepada cucu sematawayangnya.
“kakek ini berisik sekali, ini masih pagi jangan bangunkan aku” matanya masih dalam keadaan terpejam setengah sadar.
“jika kau tidak mau bangun dalam hitungan ke tiga maka gitarmu yang tidakberguna itu akan aku jual”
1 , 2 , . . . . . . . . . . . .
Tidak sampai hitungan ketiga gadis pemalas itu langsung berdiri diatas tempat tidurnya lalu menghampiri gitar berwarna putih yang berada disamping tempat tidurnya. “kakek jangan sentuh dia ! jika kakek berani menyakitinya maka aku akan kabur dari rumah apakah kakek mengerti..?” ancamnya sambil memeluk benda kesayangannya itu.
“Geeezh,, dasar anak ini. Apa yang kau banggakan dengan benda seperti itu ? jangan bodoh! Lebih baik kau okus dengan kuliahmu dan pengobatan itu” ceramah kakeknya membuat dia ingin pergi dari tempat itu.  Memang benar, sebelum kakeknya menambahkan ceramah lagi dia langsung lari ke kamar mandi.
“tidak sopan !! aku sudah menyekolahkanmu tinggi-tinggi tapi kau tidak memakai tata krama yang baik didepanku” amarahnya mulai naik setinggi puncak himalaya.
“tapi aku harus segera pergi kuliah agar aku mendapatkan tata krama yang baik dan membahagiakan kakek. Itukan yang kakek inginkan..??” teriakan Midori dari dalam kamar mandi yang masih terdengar jelas oleh kakenya.
“apakah semua anak jaman sekarang seperti itu ?” guman sang kakek lalu keluar dari dari kamar Midori.
Midori kelihatan rapi maklumlah dia harus pergi kuliah meskipun itu karena terpaksa tetapi dia harus melakukannya daripada dia harus dikurung dirumah lebih baik dia mengikuti perintah kakeknya. “kakek, aku berangkat dulu” dia memakai sepatunya satu persatu yang berada diteras ruang depan. Saat keluar dari depan rumahnya dia menatap kearah langit “Membosankan” selalu kata-kata itu yang dibicarakan oleh Midori kalau saat berangkat kuliah.
Seperti biasanya dia menunggu Bus langganannya di halte bus tak jauh dari tempat tinggalnya, dia duduk dibagian belakang sendiri memang tempat itulah yang menurutnya paling nyaman sambil mendengarkan alunan musik ari earphone miliknya kegiatannya itu memang rutin dilakukannya saat-saat ada mata kuliah pagi. Diaa berjalan di koridor kampusnya dan melihat sejumlah teman-temannya yang menunggu kehadirannya sepertinya mereka memiliki kabar berita untuk Midori, selain Sakura ternyata maasih ada teman Midori yang lain, anak ini memang pandai bergaul.
“kenapa kau lama sekali ?” desah temannya yang berambut pirang.
“bukankah aku selalu datang jam segini, memang ada apa ? kelahitannya kalian sedang menungguku” Midori jadi penasaran apa yang akan dibicarakan oleh temannya itu.
“ini mengenai Dosen kita, Prof. Takumi mengambil cuti jadi akan ada Dosen baru yang menggantikan Prof. Takumi” jelas dengan lantang.
“lalu apa masalahnya ?” Midori tampak belum mengerti juga
“kau itu bagaimana ? jika digantikan Dosen yang baru bukankah itu masalah yang besar. Prof. Takumi sudah lama membimbing kita dan dia telah memaklumi kemampuan kita dia juga tidak pernah memberikan kita tugas-tugas yang memberatkan kita kan ? kalau memang benar akan digantikan dengan orang lain apakah orang itu akan sama dengan Prof. Takumi yang sabar itu atau bahkan penggantinya akan menakutkan” kalau dilihat caranya dia memberikan alasan itu kelihatannya teman Midori yang satu itu juga dalam kategori “PEMALAS”
“bagaimana kalau penggantinya itu sudah tua, memiliki kumis tebal diatas mulutnya, warna rambutnya sudah mulai memutih, memakai kaca mata yang tebal dan bahkan yang lebih menakutkan lagi kalau dia G A L A K ! ! !”
“HuuuaAAAA !!! Jangan katakan lagi itu lebih seram daripada film horor yang pernah aku lihat” Midori mulai merinding mendengar ciri-ciri Dosen pengganti mereka.
“sudah jangan bicara terus, ayo masuk kekelas kalau Dosen yang menurut kalian seram itu pasti juga akan mengomeli kita kalu terlambar mengikuti pelajarannnya.”  Rasanya temannya yang membawa buku ini paling normal diantara teman-temannya yang lain.
Merekapun berjalan bersama masuk kekelas namun Midori berada dibelakang mereka dia masiih memikirkan Dosen pengganti itu apakah ciri-cirinya seperti apa yang dikatakan oleh teman-temannya itu. Dia menggeliat karena ketakutan yang amat tinggi. Diruang kelas Midori duduk dibangku paling belaakang dekat dengan jendela, kupikir tempat yang sangat disukai oleh Midori adalah tempat paling belakang, Dasar anak ini !
“menurutmu seperti apakah dia ? apakah ciri-cirinya sama seperti yang dikatakan oleh Nagisa-chan ?” dia menoleh kebelakang tempat Midori duduk sepertinya dia masih penasaran seperti apa Dosen pengganti itu.
“sudahlah jangan bicara lagi, ini mambuatku semakin takut” keringat dingin mulai keluar dari kulitnya yang menandakan bahwa dia benar-benar ketakutan. Seisi ruang kelas juga penasaran seperti apakah orang yang akan menggantikan Prof. Takumi  seluruh orang yang ada dikelas itu depenuhi oleh rasa penasaran mereka saling menanyakan seperti apakah dia itu karena ini adalah yang pertama kalinya mereka dihadapkan oleh pergantian Dosen. Namun rasa penasaran mereka terbayar sudah oleh langkah kaki seseorang yang berjalan dari arah pintu yang mengenakan jas berwarna hitam sedang membawa buku-buku didalam tangannya dan pena yang melekat disaku depannya,  sekarang diaberada didepan kelas dengan tegapnya sambil mengatakan “Hallo” seisi ruangan dibanjiri oleh rasa ketidak percayaan mereka semua mata tertuju pada sesosok orang yang berdiri disana tidak ketinggalan  oleh Midori meskipun dia dia berada dibelakang sendiri namun dia bisa melihat orang itu. Rasa kagum, tidak percaya, terkejut, histeris tercampur diruang kelas ini.



itulah bagian kedua dari cerita sebelumnya, emang sich, sekarang-sekarang ini aku memang lagi seneng-senengnya suka dengan tokoh jepang makanya nama atau settingnya aku ambil dari jepang. 

#don't_forget_! leave your comment OK !
tunggu part yang selanjutnya yaaach,,,,