Melihat
wajah midori kelihatannya dia sedang memikirkan sesuatu. Dia terus memandangi
kenji lekat-lekat “bagaimana kalu dia bertemu dengan sakura ? bagaimana kalau mereka berdua saling
bertemu? Aku tidak tahu perasaan kenji sekarang ini” hal yang sedang dipikirkan
oleh midori yang berharap bahwa kenji tidak bertemu dengan sakura yang takut
kalu Kenji
“kenapa
kau berdiri disana ?aku mau lewat bisakah kau menyingkir ?” cetus kenji yang
membangunkan lamunan midori hingga dia tersadar lalu menggeserkan badanya.
“jangan
masuk..” pintanya dengang lembut sambil memegang tangan kenji yang mengartikan
untuk tidak masuk kedalam.
“memang
kenapa ? lepaskan tanganmu..!” cetus kenji yang membuat midori melapaskan
tangannya.
“aku
sudah masuk kedalam, buku-bukuny tidak ada yang meenarik, semuanya terbitan tahun
lalu tidak ada yang bagus. Jadi, sebelum kau kecewa maka pindah ke toko buku
yang lainnya saja” tawar midori dengan senyum tipis dibibirnya bermaksud untuk
memberikan alasan yang bagus pada kenji.
“sejak
kapan kau tertarik pada buku-buku ?” pertanyaan kenji ini membuat Midori
terdiam lagi karena memang midori dari dulu tidak tertarik pada buku-buku
manapun seharusnya dia tidak mengatakan alsan yang seperti itu mungkin ada
alasan yang lainnya, pikirannya memang sangat dangkal tidak pernah berpikir
panjang.
“m.....
memangnya kau tahu apa tentang....” tidak sampai Midori melanjutkan kalimatnya
kenjipun pergi meninggalkannya seperti pada saat itu.
“dia
itu kebiasaan !! dimana tata kramamu ??!!!!” teriakan midori cukup keras tapi
tidak diperhatikan oleh Kenji malahan dia sudah jauh dari tempat Midori
sekarang, dia malah mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung diasana yang bisa
mendengar teriakan Midori.
“maaf..,
maafkan aku” dia hanya mampu membungkuk sambil senyum yang menanggung rasa malu atas kelakuannya
tadi.
“huuuft..
ini gara-gara kenji. Dasar Bocah Tengil”
Setelah
puasnya Midori memaki Kenji selang beberapa waktu ada seseorang yang menepuk
pundak Midori dari belakang. “aku sudah mendapatkan bukunya, ayo kita pergi”
rupanya dia adalah Sakura. Namun Midori menoleh kearah belakang atau
disekeliling Sakura hingga dia bisa menemukan kenji berada namun kenyataanya
kenji tidak ada ditempat tersebut hanya orang-orang yang berdiri didepan rak
buku.
“kau
lihat apa ?” tanya Sakura yang memalingkan perhatiannya, Sakura pun ikut-ikutan
melihat kearah yang sama seperti Midori.
“akhirnya
kau temukan juga buku itu, aku hampir kaku karena berdiri terlalu lama disini.
Ayo kita pulang” dia langsung menarik
tangan Sakura untuk segera pergi dari tempat itu namun Sakura tidak memiliki
sedikit rasa curiga pada teman yang berada disampingnya itu. Selama
diperjalanan dia terus memikirkan Kenji. Apakah disana dia telah bertemu dengan
Sakura tetapi jika dilihat dari raut wajah Sakura dia tampak tiak bertemu
dengan Kenji. Jika kalau Sakura bertemu dengan Kenji maka dia akan menceritakannya
pada Midori tetapi ini tampak tidak terjadi apa-apa. Apakah Midori harus
bertanya pada Sakura mengenai hal ini agar dia bisa langsung mengetahui
kebenarannya tetapi kalau ditanya langsung pasti Sakura akan terkejut. Ini
memang membuat Middori semakin bingung.
“ada
yang ingin kubicarakan padamu” dia memulai membicarakannya. “Katakan saja”
tetapi Midori bingung harus menceritakannya mulai dari mana. Dia mengepalkan
kedua tangannya dan menarik nafas dalam-dalam. “kemarin aku bertemu dengan
Kenji. Dia sudah pulang dari Inggris sepeertinya ini harus kuceritakan padamu”
tidak disangka-sangka Midori berani menceritakannya. Tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan
daun-daun yang kering, Mendengar berita dari Midori Sakura berhenti dari
langkanya dia langsung ingat pada sesosok temannya dulu semasa kuliah yang
pernah menyatakan perasaanya pada Sakura. “benarkah ?” kata-katanya terdengar
sangat berat diucap. “Hm... aku melihatnya sendiri dia sangat berubah, anak itu
memang penuh kejutan yach,, dulu dia terlihat seperti anak kecil tapi sekarang
dia menjadi lebih tenang” Midori tetap
melangkaahkan kakinya meskipun dia tahu kalu Sakura masih terdiam
dibelakangnya. “dulu kita sering pergi keluar bersamanya kita terlihat begitu
akrab, namun apakah dia juga masih ingat pada kita ? menurutmu apakah dia sudah
melupakan pertemanan kita Sakura-chan ?” dia menolehkan pandangannya kearah
Sakura dengan senyumannya yang khas.
“aku
tidak perduli kalau dia melupakan pertemanan kita dulu tetapi aku senang dia
kembali kejepang. Sekarang mungkin dia telah menjadi orang yang lebih baik
seperti dokter mungkin, Docktor, Profesor atau bahkan insinyur. Aku senang jika
temanku telah menjadi seperi itu” Sakura mulai menyusul langkah Midori yang
berada didepannya. Midori melihat kearah temannya itu dengan bangganya memiliki
teman seperti Sakura, sifat sakura memang dewasa dia selalu memikirkan
kebahagiaan orang disekitarnya itulah yang membuat Midori terkesan.
“kalau
dipikir lagi, bukankah usia Kenji juga sama seperti kita ? tapi dia telah lulus
kuliah di Inggris” tidak biasanya Sakura merasa iri pada seseorang tetapi ini
adalah pertama kalinya.
“benar,
dia memiliki otak yang super aku jadi curiga selama di Inggris makanaan seperti
apa yang dimakan oleh Kenji mungki itu yang membuat otaknya menjadi bagus”
celotehan Midori mulai dilanturkan lagi hingga sakura tertawa dan melipukan
kejanggalan yang ada dihatinya.
“kalau
bicara soal kuliah, besok pagi aku ada mata kuliah ini membuatku kesal.
Seharusnya waktu lulus S1 aku tidak perlu melanjutkan kuliah lagi...!!!” tidak
disangka cewek seperti Midori bisa melanjutkan studinya.
“kalau
tidak melanjutkan lagi memangnya kau mau dikurung dirumah oleh kakekmu..??”
godaan sakura yang membut Midori semakin mengkasihani pada dirinya sendiri.
“kenapa
aku harus memiliki kakek seperti itu ? aku ingin terbebas dari pelajaran aku
ingin mengembangkan praktekku pada binatang dan juga menandatangani kontrak di
cafe” dia sudah mulai menggila dia juga menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“jadi
kau masih menyanyi disana ?” tanyanya pada Midori dengan nada heran
“memang
kenapa ?aku tidak mau menyia-nyiakan bakatku begitu saja. Karena harus dibebani
oleh kuliah aku tidak punya waktu lagi untuk bernyanyi di Chatarish lagi
ditambah lagi aku harus menerima pengobatan binatang-binatang peliharaan”
Midori mulai menyesali nasibnya yang malang itu.
“memangnya
kau saja yang dipaksa untuk melanjutkan kuliah lagi ? aku juga dipaksa untuk
melanjutkan” Sakura juga tidak mau kalah dengan Midori. Jadi ceritanya mereka
berdua sedang meratapi nasib mereka sama-sama mungkin akibat dari ‘nasib
sepenanggungan’ Jiiiaah>>...
---o00o---
Sampai
matahari sudah terbitpun dia masih berada didalam selimut yang menyelimuti
tubuhnya mungkin dia tipe gadis pemalas.
“M
I D O R I . . . . .! ! ! apa kau masih tidak mau bangun juga ??” teriang sang
kakek kepada cucu sematawayangnya.
“kakek
ini berisik sekali, ini masih pagi jangan bangunkan aku” matanya masih dalam
keadaan terpejam setengah sadar.
“jika
kau tidak mau bangun dalam hitungan ke tiga maka gitarmu yang tidakberguna itu
akan aku jual”
1
, 2 , . . . . . . . . . . . .
Tidak
sampai hitungan ketiga gadis pemalas itu langsung berdiri diatas tempat tidurnya
lalu menghampiri gitar berwarna putih yang berada disamping tempat tidurnya.
“kakek jangan sentuh dia ! jika kakek berani menyakitinya maka aku akan kabur
dari rumah apakah kakek mengerti..?” ancamnya sambil memeluk benda
kesayangannya itu.
“Geeezh,,
dasar anak ini. Apa yang kau banggakan dengan benda seperti itu ? jangan bodoh!
Lebih baik kau okus dengan kuliahmu dan pengobatan itu” ceramah kakeknya
membuat dia ingin pergi dari tempat itu.
Memang benar, sebelum kakeknya menambahkan ceramah lagi dia langsung
lari ke kamar mandi.
“tidak
sopan !! aku sudah menyekolahkanmu tinggi-tinggi tapi kau tidak memakai tata
krama yang baik didepanku” amarahnya mulai naik setinggi puncak himalaya.
“tapi
aku harus segera pergi kuliah agar aku mendapatkan tata krama yang baik dan
membahagiakan kakek. Itukan yang kakek inginkan..??” teriakan Midori dari dalam
kamar mandi yang masih terdengar jelas oleh kakenya.
“apakah
semua anak jaman sekarang seperti itu ?” guman sang kakek lalu keluar dari dari
kamar Midori.
Midori
kelihatan rapi maklumlah dia harus pergi kuliah meskipun itu karena terpaksa
tetapi dia harus melakukannya daripada dia harus dikurung dirumah lebih baik
dia mengikuti perintah kakeknya. “kakek, aku berangkat dulu” dia memakai
sepatunya satu persatu yang berada diteras ruang depan. Saat keluar dari depan
rumahnya dia menatap kearah langit “Membosankan” selalu kata-kata itu yang
dibicarakan oleh Midori kalau saat berangkat kuliah.
Seperti
biasanya dia menunggu Bus langganannya di halte bus tak jauh dari tempat
tinggalnya, dia duduk dibagian belakang sendiri memang tempat itulah yang
menurutnya paling nyaman sambil mendengarkan alunan musik ari earphone miliknya
kegiatannya itu memang rutin dilakukannya saat-saat ada mata kuliah pagi. Diaa
berjalan di koridor kampusnya dan melihat sejumlah teman-temannya yang menunggu
kehadirannya sepertinya mereka memiliki kabar berita untuk Midori, selain
Sakura ternyata maasih ada teman Midori yang lain, anak ini memang pandai
bergaul.
“kenapa
kau lama sekali ?” desah temannya yang berambut pirang.
“bukankah
aku selalu datang jam segini, memang ada apa ? kelahitannya kalian sedang
menungguku” Midori jadi penasaran apa yang akan dibicarakan oleh temannya itu.
“ini
mengenai Dosen kita, Prof. Takumi mengambil cuti jadi akan ada Dosen baru yang
menggantikan Prof. Takumi” jelas dengan lantang.
“lalu
apa masalahnya ?” Midori tampak belum mengerti juga
“kau
itu bagaimana ? jika digantikan Dosen yang baru bukankah itu masalah yang
besar. Prof. Takumi sudah lama membimbing kita dan dia telah memaklumi
kemampuan kita dia juga tidak pernah memberikan kita tugas-tugas yang
memberatkan kita kan ? kalau memang benar akan digantikan dengan orang lain
apakah orang itu akan sama dengan Prof. Takumi yang sabar itu atau bahkan
penggantinya akan menakutkan” kalau dilihat caranya dia memberikan alasan itu
kelihatannya teman Midori yang satu itu juga dalam kategori “PEMALAS”
“bagaimana
kalau penggantinya itu sudah tua, memiliki kumis tebal diatas mulutnya, warna
rambutnya sudah mulai memutih, memakai kaca mata yang tebal dan bahkan yang
lebih menakutkan lagi kalau dia G A L A K ! ! !”
“HuuuaAAAA
!!! Jangan katakan lagi itu lebih seram daripada film horor yang pernah aku
lihat” Midori mulai merinding mendengar ciri-ciri Dosen pengganti mereka.
“sudah
jangan bicara terus, ayo masuk kekelas kalau Dosen yang menurut kalian seram
itu pasti juga akan mengomeli kita kalu terlambar mengikuti
pelajarannnya.” Rasanya temannya yang
membawa buku ini paling normal diantara teman-temannya yang lain.
Merekapun
berjalan bersama masuk kekelas namun Midori berada dibelakang mereka dia masiih
memikirkan Dosen pengganti itu apakah ciri-cirinya seperti apa yang dikatakan
oleh teman-temannya itu. Dia menggeliat karena ketakutan yang amat tinggi.
Diruang kelas Midori duduk dibangku paling belaakang dekat dengan jendela,
kupikir tempat yang sangat disukai oleh Midori adalah tempat paling belakang,
Dasar anak ini !
“menurutmu
seperti apakah dia ? apakah ciri-cirinya sama seperti yang dikatakan oleh
Nagisa-chan ?” dia menoleh kebelakang tempat Midori duduk sepertinya dia masih
penasaran seperti apa Dosen pengganti itu.
“sudahlah
jangan bicara lagi, ini mambuatku semakin takut” keringat dingin mulai keluar
dari kulitnya yang menandakan bahwa dia benar-benar ketakutan. Seisi ruang
kelas juga penasaran seperti apakah orang yang akan menggantikan Prof.
Takumi seluruh orang yang ada dikelas
itu depenuhi oleh rasa penasaran mereka saling menanyakan seperti apakah dia
itu karena ini adalah yang pertama kalinya mereka dihadapkan oleh pergantian
Dosen. Namun rasa penasaran mereka terbayar sudah oleh langkah kaki seseorang
yang berjalan dari arah pintu yang mengenakan jas berwarna hitam sedang membawa
buku-buku didalam tangannya dan pena yang melekat disaku depannya, sekarang diaberada didepan kelas dengan
tegapnya sambil mengatakan “Hallo” seisi ruangan dibanjiri oleh rasa ketidak
percayaan mereka semua mata tertuju pada sesosok orang yang berdiri disana
tidak ketinggalan oleh Midori meskipun
dia dia berada dibelakang sendiri namun dia bisa melihat orang itu. Rasa kagum,
tidak percaya, terkejut, histeris tercampur diruang kelas ini.
itulah bagian kedua dari cerita sebelumnya, emang sich, sekarang-sekarang ini aku memang lagi seneng-senengnya suka dengan tokoh jepang makanya nama atau settingnya aku ambil dari jepang.
#don't_forget_! leave your comment OK !
tunggu part yang selanjutnya yaaach,,,,